Saturday, 21 March 2015

Asal Ibu Senang

Puisi Gurit Winata


Khusuk hening dalam tahajjudmu,
tertengadah dan merunduk dalam keihlasan,
menghiasi malammu yang sepi merajuk,
tiada beban yang melingkar di pundakmu,
semua kau luruhkan untukku,
anakmu.

Ibu, walau di matamu,
selamanya aku adalah ranting kecil,
yang kau khawatirkan patah ditiup angin,
dan kau cemaskan akan rapuh dan lemahku,
tapi sesungguhnya aku ingin merindang,
melindungimu dari sedih nestapa.

Andai aku dipanggilNya lebih dulu,
aku ingin selalu datang ke bumi setiap malam,
bergayut di sayap malaikat pembawa rahmat,
yang menjinjing seribu salam indah dari surga,
untukmu,
ketika air matamu menetes di atas sajadah.

Aku ingin berlebihan di hadapanmu,
untuk menutup kekuranganku,
walau harus kupaksakan,
tapi tak apalah,
asal Ibu senang,
karena kesenangamu adalah nyawaku.

Friday, 20 March 2015

Dengan Caraku Sendiri

Puisi Gurit Winata


Dengan berkaca pada embun,
aku menyayangimu,
untuk denting hati yang bening,
kucelotehkan nada-nada kerinduan,
ketika sunyi senyap merajam sukma.

Dengan berguru pada bintang,
aku mencintaimu,
karena pijar sanubari yang memancar,
di antara gejolak rasa yang tertelungkup,
mencabik-cabik keheningan malamku.

Dengan caraku sendiri,
aku mengungkapan samudera kasihku,
walau tak pernah kau tangkap akad niatku,
tapi telah kupersempahkan opera jiwa,
yang menanti gemuruh tepuk sambutmu.

Masihkah kau ragu,
dengan bening embun berbalut kabut.
Pantaskah kau sangsikan,
kilau kejora yang tak pernah berkedip.
Seperti itulah caraku menyayangimu.

Menangislah Bunda

Puisi Gurit Winata


Bunda,
aku memang tak melihat,
hari di mana kau dilahirkan,
tetapi aku yakin,
hari itu pastilah hari yang indah,
langit memerah jambu,
awan berdesakan hendak turun,
mentari mengerlingkan mata,
sorepun tak ingin beranjak menjadi malam,
karena gembiranya dunia,
menyambut kehadiran wanita mulia.

Bunda,
aku memang tak melihat,
hari di mana aku dilahirkan,
hari yang kau senyumi,
hari yang kutangisi,
hari yang tak pernah kunanti,
karena ketakutanku yang amat sangat,
tentang sebuah balas budi,
dan janji-janji bakti,
yang tak mungkin kupenuhi,
untuk mewujudkan harapanmu.

Bunda,
aku masih bisa melihat senyummu,
kurang lebih,
hampir sama seperti senyummu dulu,
ketika kau melahirkanku,
tetapi ijinkan aku bertanya,
bukankah bulan tak selamanya purnama?
dan embun pagi akan diteguk binatang melata,
akupun telah tak telanjang lagi,
karena berbaju tebal keangkuhan,
maka seyogyanya,
menangislah bunda.

Saturday, 14 March 2015

Seroja

Puisi Gurit Winata



Perlukah aku meminta maaf pada sang malam,
karena acap kali kuusir dia dari hadapanku,
agar segera kulihat jendela pagi yang indah,
agar segera kujumpai sapa sambutnya,
dan kutatap lagi matanya yang seperti bintang.

Dahulu kala pernah kurasakan rasa seperti ini,
entah kapan dan di mana aku mengalaminya,
kini kau ingatkan aku cara membuka hati,
bagai lelap tertidur dan terbuai dalam  mimpi,
kau membawaku terbang dengan sayap putihmu.

Wahai dara,
andai aku pujangga pastilah aku telah memuja,
mengibaratkanmu bagai bunga seroja,
merayumu dengan untaian puisi dan prosa,
tapi kata-kata yang kurangkai selalu tanpa makna.

Jika saat ini ingin kuusir malam sekali lagi,
semata-mata bukan karena aku membencinya,
tapi semua kulakukan untukmu,
lantaran tiba-tiba kurasakan rindu,
padamu.

Kejora

Puisi Gurit Winata


Kejora,
ketika sinarmu membiru,
hanyutlah aku dalam rindu,
kala cahayamu memerah,
redamlah aku dari amarah.

Karena kau cantik,
bidadari pun iri hati,
lantaran selalu kupandang,
tak kuijinkan mata ini berkedip,
dengan alasan takut kehilangan.

Wahai penghias langit malam,
hiasi hatiku dengan sinarmu,
sampai lubuk-lubuk tak terjamah,
dan relung-relung tak tersentuh,
biar jiwaku seputih parasmu.

Kejora,
tertutup awan gelap,
tak pernah mampu menghijab,
terselubung awan putih,
tak jua kudengar suara rintih.

Friday, 13 March 2015

Aku Ingin Menciummu Setiap Hari

Puisi Gurit Winata


Ibu,
boleh kan aku merayu?
aku ingin berbaring di pangkuanmu,
mengadu tentang hari-hari lelahku,
tentang keras dunia,
yang tak seteduh kasihmu,
dan ingin kupertanyakan,
mengapa di luar sana,
tak pernah kutemukan keikhlasan,
seperti keikhlasanmu padaku.

 

Ibu,
Belailah rambutku,
pijatlah lenganku,
usaplah dahiku,
aku ingin membasahi pangkuanmu,
dengan air mataku,
dengan keringat dinginku,
dan ninabobokan aku,
bacakan kisah-kisah tentang indahnya surga,
hingga aku terlelap.

Ibu,
Ibuku sayang,
acap kali kulihat,
orang-orang hanya sempat mencium ibunya,
sekali saja,
saat jasad ibunya hendak dikebumikan,
sungguh,
aku tak ingin seperti itu,
maka ijinkan aku,
untuk menciummu setiap hari.

Thursday, 12 March 2015

Dusta Terindah

Puisi Gurit Winata


Aku letih,
dengan semua dalih,
yang kau ucap dengan fasih,
meyakinkan kasihmu yang putih,
padaku yang tak bisa memilih,
hingga membuatku tersisih,
tertampar kepalsuan terbersih.

Aku penat,
menyaksikan segala siasat,
yang kau tebar penuh muslihat,
kau perankan tanpa ada cacat,
hingga terlihat bagaikan malaikat,
di balik niatmu yang berkarat,
menabur kebohongan terhebat.

Aku lelah,
menahan semua resah,
karena hatimu telah terbelah,
melemparkanku bagai sampah,
hingga kuakui aku telah kalah,
dan menahan rasa yang berdarah,
terlukai tajamnya dusta terindah.